nav-left cat-right
cat-right

KESESUAIAN TES KECERDASAN UMUM DAN TES HASIL BELAJAR MAHASISWA AMIK JENDERAL SUDIRMAN (Abdul Murad, Dosen Kopertis Wilayah I NAD-Sumut dpk. FKIP UISU)

KESESUAIAN TES KECERDASAN UMUM DAN TES HASIL BELAJAR MAHASISWA AMIK JENDERAL SUDIRMAN

Abdul Murad

Dosen Kopertis Wilayah I NAD-Sumut dpk. FKIP UISU

Abstract

                The study is aimed to examine the correlation between general intelligence and the achievement test of students of AMIK Jenderal Sudirman. This correlative research uses the instrument of SPM (Standard Progressive Matrices) for general intelligence and achievement test variables. The population if this research consisted of the 1997/1998 AMIK Jenderal Sudirman students with 56 persons and the research sample is the population sample. The statistic analysis was done by employing the descriptive method and the inferensial correlation analysil.

                The research results show that there is the significant correlation between intelligence and achievement test. Spesifically, it is known that the higher percentage of the general intelligence is at intellectual average grade III (normal) and mayority of student reach their achievement at good level (48,21%) and middle (48,21%). It is suggested that the other aspects implied in their achievement except intelligence need to be examined.

Key words: intelligence tests, achievement test.

 

1. Pendahuluan

Pada dasarnya aktivitas pendidik merupakan upaya untuk mengembangkan tiga aspek pribadi yaitu kemampuan intelektual, keterampilan, dan watak peserta didik. Selanjutnya, pada kemampuan intelektual seringkali dibedakan antara kemampuan pikir nalar dan kemampuan akademik yang berhubungan dengan bidang ilmu tertentu seperti matematika. Pendidikan Moral pancasila dan ilmu ukur sudut. Setiap mahasiswa memiliki perkembangan intelektual masing-masing sehingga memiliki kesiapan dan kemampuan belajar yang berbeda-beda atau beragam. Perbedaan individual ini seyogianya dipahami oleh para dosen termasuk di dalamnya para konselor perguruan tinggi. Pemahaman seperti ini semakin dipandang krusial karena memang sangat dibutuhkan dalam upaya melancarkan kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan sangat muskil dapat dicapai bila para dosen kurang memahami keberadaan potensi mahasiswa mereka.

Bimbingan konseling sebagai salah satu komponen yang integral dalam pendidikan yang di dalam program kegiatannya terdapat kegiatan pengumplan data. Kegiatan pengumpulan data ini diselenggarakan semata-mata dimaksudkan untuk lebih memahami keberadaan mahasiswa. Sebagaimana diketahui bahwa teknik pengumpulan data sebenarnya ada dua macam yakni testing dan teknik non-testing. Teknik testing dapat dikemukakan terdiri atas alat pengumpul data seperti kuesioner, studi kasus, wawancara, rating scale, studi dokumen dan sebagainya. Pembahasan penelitian ini difokuskan pada teknik testing, yaitu mencakup tes intelegensi (tes progressive Matrices) dan tes hasil belajar (achievement test).

Salah satu pelayanan konseling yang menonjol di perguruan tinggi adalah pelayanan bimbingan belajar. Untuk memberikan pelayanan bimbingan belajar yang efektif, diperlukan data yang lengkap dan akurat tentang mahasiswa. Data-data tersebut dapat dikemukakan seperti informasi bakat, minat, inteligensi umum dan sebagainya. Dalam penelitian ini tentu tidak mungkin dilakukan penelusuran sekaligus berbagai unsur efektivitas hasil belajar, penulis hanya memfokuskan kajiannya pada inteligensi umum yang diduga kuat merupakan unsur yang berkaitan dengan pencapaian hasil belajar mahasiswa.

Landasan pekerjaan konselor dalam memberikan layanannya adalah individual differences bagi perkembangan individu, yang menyebabkan satu individu berbeda keberadaannya dengan individu lainnya. Ini berarti bahwa pelayanan konseling baru dapat dilakukan secara akurat dan sukses bila individual differences tersebut dalam hal potensi intelektual dan karakteristik lainnya dari individu diungkap. Dengan kata lain, diperlukan alat pengumpul data (instrument) yang akurat untuk mengungkaapkan karakteristik individu tersebut dalam hal ini tes inteligensi (tes progressive matrices) dan tes hasil belajar mahasiswa Akademi Manajemen Informatika Komputer Jenderal Sudirman. Keakuratan dan kesuksesan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling sesungguhnya sangat tergantung kepada benar tidaknya data yang digunakannya. Karena data yang tidak valid akan menyebabkan keputusan diagnosa yang salah yang pada gilirannya akan membahayakan mahasiswa/individu yang menerima pelayanan tersebut. Oleh karena itu, kualitas alat pengumpul data, prosedur yang ditempuh, cara menganalisis dan menafsirkan data yang diperoleh amat penting dalam bimbingan konseling. Jadi, kualitas alat tes psikologis serta pemakai (tester) yang profesional adalah faktor yang amat mempengaruhi keberhasilan pelayanan bimbingan konseling yang diberikan.

Keberhasilan belajar mahasiswa yang ditandai oleh hasil/prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal individu. Faktor eksternal dapat dikemukakan antara lain fasilitas belajar, dosen sebagai pengajar, perpustakaan, dan sebagainya. Sedangkan faktor dalam diri (faktor internal) dapat pula berupa antara lain inteligensi, bakat, minat, motivasi dan sebagainya. Dalam penelitian ini, penulis ingin mengetahui bagaimana hubungan atau kesesuaian inteligensi umum dengan hasil belajar mahasiswa AMIK Jenderal Sudirman.

Penelitian ini jelasnya akan diungkap mengenai seberapa kuat hubungan tes matriks progresif dengan tes hasil belajar mahasiswa AMIK Jenderal Sudirman. Informasi ini penting sebagai langkah awal untuk memperkirakan kemampuan khusus mana yang lebih menagandung muatan inteligensi di dalam diri seseorang dalam Matriks Progresif. Sejauhmana hasil belajar mahasiswa dapat memberikan alternative lain mendeteksi penggunaan tes Matriks Progresif dalam memprediksikan tingkat kecerdasan mahasiswa. Untuk mengungkapkan hal itu, perumusan penelitian diarahkan atau difokuskan sebagai berikut : “kesesuaian tes kecerdasan umum dengan hasil belajar mahasiswa AMIK Jenderal Sudirman.

 

2. Rangkuman Tinjauan Teoretik

2.1. Konsepsi Inteligensi

Piaget mengemukakan beberapa defenisi inteligensi, yaitu, “…intelligence is a particular instance of biological adaptation…”; “…is the form of equilibrium towards which the successive adaptations and exchanges between the organism and his environment are directed…”; a system of living and acting operations …” (Ginsburg & Opper, 1979). Definisi yang pertama mengemukakan bahwa inteligensi merupakan suatu kemampuan adaptasi biologis manusia. Sistem adaptasi ini berfungsi untuk dapat berinteraksi secara efektif dengan lingkungan pada suatu tingkat psikologis. Defenisi kedua menunjukkan bahwa inteligensi menunjukkan bahwa inteligensi merupakann bentuk keseimbangan dalam proses adaptasi dan perubahan organism menghadapi lingkungannya. Keseimbangan merupakan suatu penysuaian yang harmonis, paling sedikit pada dua faktor, yaitu antara individu atau struktur kognitif dengan lingkungannya. Defenisi ketiga menunjukkan suatu sistem pikiran dan bertindak yang dilatarbelakangi oleh aktivitas mental yang terstruktur. Dari ketiga dimensi Piaget di atas dapat dilihat bahwa pada akhirnya Piaget melibatkan aspek kemampuan intelektual secara kuat.

Tes Matriks progresif adalah tes kemampuan umum (general mental ability) yang dikembangkan oleh Raven yang disusun sedemikian rupa sehingga pengaruh (hallo efect) kemampuan verbal, kondisi budaya, dan tingkat pendidikan terhadap hasil tes diperkecil (Raven, 1960). Tes ini disusun berdasarkan pengukuran Spearman atas factor umum “Spearman’s g factor (Anastasi, 1990). Tes ini dapat diberikan baik secara individual maupun secara kelompok. Tes Matriks progresif bentuk standar terdiri atas kelompok A, B, C, D, dan E. Masing-masing sub-tes terdiri atas dua belas butir. Dengan demikian, keseluruhan tes berisi enam puluh butir soal. Pada dasarnya masing-masing butir disusun berdasarkan atau dasar urut-urutan tingkat kesukaran, dari yang paling mudah sampai yang paling sukar. Untuk butir kelompok A dan kelompok B disediakan enam macam alternatif pilihan jawaban, sedangkan untuk kelompok C, D, dan E terdapat delapan pilihan jawaban. Di antara alternatif pilihan jawaban yang bermacam-macam itu, untuk masing-masing butir hanya ada satu jawaban yang benar.

Semua butir soal hanya berbentuk gambar dan tanpa ada tulisan-tulisan yang berbentuk kalimat. Demikian pula, semua butir soal hanya memiliki dua macam warna, yaitu warna hitam dan putih. Salah satu contoh daripada butir soal tersebut dapat dilihat pada lampiran. Contoh ini merupakan butir soal nomor A1 dari tes tersebut. Di samping tes tersebut, dipergunakan pula lembar jawaban yang terpisah dari tes. Contoh lembar jawaban terdapat pada lampiran.

Tentang aspek yang diungkapkan melalui tes Matriks Progresif ini, Raven (1960) mengemukakan sebagai berikut:

“Standard Progressive Matrices sets A, B, C, D, and E is a test of a person’s capacity at the time of the test to apprehend meaningless figure presented for his observation, see the relation between them, conceive the nature of the figure completing each system of relations presented, and by so doing develop a systemic method of reasoning”.

Menurut Raven (1960) tes Matriks Progresif tidak hanya berlaku untuk orang-orang Inggris, tetapi juga berlaku bagi bangsa-bangsa lainnya. Hal ini dimungkinkan karena tes tersebut hanya berbentuk gambar-gambar sederhana. Subjek atau “testee” dalam usahanya untuk menyelesaikan soal-soal tidak perlu menggunakan bahasa baik tertulis maupun lisan yang berbentuk kata-kata atau kalimat-kalimat. Oleh sebab itu, tes Matriks Progresif pada dasarnya merupakan tes yang mendekati “Culture free test” (Masrun, 1975).

Reliabilitas tes matriks Progresif dengan menggunakan “test-retest pada populasi anak-anak dan dewasa antara 0,70 dan 0,90 sedangkan internal consistency coefficients” adalah 0,80 dan 0,90 (Anastasi, 1990). Korelasi dengan tes inteligensi verbal dan performance antara 0,40 dan 0,75 dan terdapat kecenderungan lebih tinggi pada tes performance (Anastasi, 1990). Beberapa hasil temuan menunjukkan bahwa tes Matriks Progresif mempunyai korelasi yang posistif dan tes Wechsler atau Binet (Cronbach, 1984).

Tes Matriks Progresif sangat memuaskan untuk mengukur kecerdasan  dan mempunyai validitas yang meyakinkan (Sugiyanto, dkk., 1984). Oleh sebab itu, tujuan penggunaan tes ini adalah untuk mengukur dan menggolongkan tingkat kecerdasan umum dari subjek (Sugiyanto, dkk., 1984). Hal ini sejalan dengan pandangan Cronbach yang mengatakan bahwa tes Matriks Progresif digunakan di Inggris selama perang dunia II untuk penggolongan di dalam kemiliteran (Cronbach, 1984).

Waktu yang diperlukan untuk penyajian tes Matriks Progresif tidak terbatas. Hanya biasanya disediakan waktu lebih kurang tiga puluh menit untuk mengerjakan soal, ditambah dengan waktu untuk memberikan penjelasan (instruction). Mengenai cara pemberian skor, nilai satu untuk butir yang dijawab betul dan nilai nol untuk jawaban yang tidak benar. Soal nomor 1 dan 2 khususnya dipakai sebagai contoh dan harus betul. Dengan demikian, secara teoretis rentangan nilai akan bergerak dari 2 sampai dengan 60 (Sugiyanto, dkk., 1984).

Penggolongan tingkat inteligensi subjek (Raven, 1960) didasarkan atas nilai persentil sebagai berikut:

  1. “intellectually superior”, bagi subjek yang nilainya pada persentil ke-95 ke atas;
  2. “definitely above the average in intellectual capacity”, bagi subjek yang nilainya terletak antara persentil 75 sampai dengan persentil 94;
  3. “intellectually average”, yaitu kelompok subjek yang nilainya berkisar antara persentil ke – 25 sampai dengan persentil ke – 74;
  4. “definitely below average in intellectual capacity”, bagi subjek yang nilainya antara persentil ke -5 sampai dengan persentil ke -24;
  5. “intellectually defective”, yaitu jika nilai subjek terletak pada dan di bawah persentil yang ke – 5.

Salah satu metode untuk menginterpretasikan skor tes Matriks Progresif adalah dengan menggunakan manual Standard Progressive Matrices versi Australia yang dikeluarkan oleh Australian Council for Educational Research (ACER). Dengan cara metode interpretasi ini, skor yang didapatkan langsung dikonversikan dengan IQ (Intelligence Quotient). ACER menjelaskan sebagai berikut :

“A raw score on general ability test in self has little meaning. Usually, the first step in interpreting performance is to translate the number of correct response (raw score) into terms that will give a comparison with others in a specified group, usually the child’s own age group, who have taken the test. To obtain a measure of relative brightness it is necessary to make proper allowances for age differences when interpreting test scores. Thus if two children of differences ages obtain the same raw score the younger is, relative to his own age group, the brighter. Expressing a child’s result as an IQ provides an index of each child’s relative brightness irrespective of chronological age” (ACER, 1966: 11).

 

2.2 Pengertian belajar

Dalam Pengertian lebih luas, belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Oleh karena itu, individu sejak masa kanak-kanak telah terjadi belajar. Manusia selalu melakukan perbuatan belajar, hal ini tampak dari adanya perubahan-perubahan di dalam kehidupan, misalnya dari tidak dapat berbicara menjadi dapat berbicara, anak yang pada mulanya berjalan dengan gerakan tidak sempurna, melalui latihan menjadi dapat berjalan dengan gerakan yang sempurna. Kegiatan belajar ini merupakan kegiatan yang terus menerus berlangsung pada manusia selama manusia itu masih hidup, seperti yang dikatakan oleh Agoes Soejanto bahwa: “belajar adalah suatu proses yang berlangsung terus menerus. Artinya sepanjang hayat manusia akan mengalami proses belajar” (Agoes Sujanto, 1981). Dari kutipan di atas, jelaslah bahwa sepanjang hayat manusia adalah belajar.

Dalam dunia pendidikan kegiatan belajar ini merupakan kegiatan yang inti dan utama. Seorang yang kuliah pada dasarnya adalah untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, kebiaasaan baru yang sebelumnya belum didapatkan. Dengan belajar ada tingkah laku yang berubah, misalnya anak yang pada mulanya tidak dapat menulis menjadi dapat menulis. Seorang penari yang pada mulanya selalu melakukan kesalahan-kesalahan setelah diulang beberapa kali menjadi seorang penari yang terampil.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini penulis memaparkan beberapa definisi belajar yang dilontarkan oleh para ahli. H.C. Witherington mengatakan : “belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang, yang dinyatakan dalam cara-cara atau pola-pola tingkah laku yang baru” (HC Witherington, 1982).

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa seseorang dikatakan telah belajar bila terdapat perubahan dalam diri orang yang belajar yang dinyatakan dalam cara-cara atau pola-pola tingkah laku. Maksud dari perubahan tingkah laku adalah terbentuknya tingkah laku baru dari sebelum belajar kepada tingkah laku sesudah belajar.

Defenisi belajar lainnya dikemukakan oleh Oemar Hamalik : “Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan di dalam diri seseorang  yang dinyatakan di dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkatpengalaman dan latihan (Oemar Hamalik, 1980). Pendapat ini mengatakan bahwa perubahan yang terjadi dalam diri seseorang itu terjadi sebagai akibat pengalaman dan latihan.

Kemudian dikemukakan pula bahwa “perubahan itu bukanlah akibat daripada gangguan penyakit atau karena pengaruh obat-obat, melainkan perubahan (tingkah laku) yang : 1) sedang atau sedang berlangsung; 2) secara relative bersifat permanen; dan 3) berhubungan dengan pengalaman (T. Manurung, 1978).

Dengan demikian jealslah bahwa perubahan tingkah laku yang dihasilkan dalam proses belajar adalah akibat pengalaman dan latihan bukan karena gangguan penyakit, obat-obatan dan kematangan. Pengalaman dimaksudkan adalah segalaa kejadian yang secara sengaja maupun tidak sengaja kita alami, sedangkan latihan merupakan kejadian yang dengan sengaja kita lakukan berulang-ulang. Perubahan tingkah laku tersebut bersifat permanen. Tingkah laku yang timbul atau berubah sebagai akibat pengalaman, misalnya seorang anak bermain api merasa panas, lalu untuk hari-hari selanjutnya ia tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Tingkah laku yang muncul itu sebagai akibat latihan dapat dikemukakan seperti berikut: seseorang yang tidak dapat mengenderai sepeda menjadi dapat mengenderai sepeda.

Selanjutnya Ralph Garry dan Howard L. Kingsley (1970) mengatakan bahwa “Learning is the process by which behavior (in the broad sense) is originated or changed through practice or training.”

Pendapat ini dapat diartikan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti yanh luas) dihasilkan atau berubah melalui latihan dan kebiasaan. Tingkah laku yang dihasilkan itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya Pengertian-pengertian baru, perubahan dalam sikap, kebiasaan-kebiasaan, keterampilan-kesanggupan menghargai, perkembangan sifat-sifat sosial, emosional dan perubahan jasmani (Oemar Hamalik, 1980).

Dari paparan tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa:

  1. Belajar menghasilkan perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku ini dapat bersifat kea rah positif dan negatif. Ke arah positif misalnya seseorang mahasiswa yang waktu ujian selalu menyontek dari buku menjadi tidak menyontek lagi karena kegagalannya berkali-kali dalam ujian lisan.
  2. Perubahan bersifat relatif menetap. Hal ini mengesampingkan perubahan-perubahan yang sifatnya sementara, misalnya seorang atlit yang bersemangat bertanding dalam iklim di negaranya tiba-tiba menjadi kurang bersemangat tatkala bertanding di Negara lain yang iklimnya berbeda. Ini tidak disebut dengan belajar.
  3. Belajar adalah suatu proses dimana waktu yang cukup lama merupakan mediator terjadinya tingkah laku tertentu, dalam hal ini terjadinya perubahan tingkah laku. Prosesnya tidak dapat dilihat, yang dapat dilhat adalah hasilnya, yaitu perubahan tingkah laku.

Belajar mengandung arti yang luas, dalam penelitian ini yang penulis maksudkan dengan belajar secara formal di perguruan tinggi akademi.

Di dalam belajar terjadi peristiwa-peristiwa kompleks yang kemudian dapat dirinci dalam bentuk prinsip-prinsip belajar sebagai berikut:

–          Belajar adalah suatu proses aktual dimana terjadi hubungan saling mempengaruhi secara dinamis antara mahasiswa dengan lingkungannya.

–          Belajar senantiasa harus bertujuan terarah dan jelas bagi mahasiswa. Tujuannya akan menuntun dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya.

–          Belajar yang paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan terutama bersumber dari dalam dirinya sendiri.

–          Senantiasa ada rintangan dan hambatan dalam belajar. Oleh karena itu, mahasiswa harus sanggup mengatasinya secara tepat.

–          Belajar memerlukan bimbingan. Bimbingan itu baik dari guru, dosen atau tuntunan buku pelajaran sendiri.

–          Jenis belajar yang paling utama ialah belajar untuk berpikir kritis, lebih baik daripada pembentukan mekanis.

–          Cara belajar yang paling efektif adalah dalam bentuk pemecahan masalah melalui kerja kelompok asalkan masalah-masalah telah disadari bersama.

–          Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari, sehingga diperoleh Pengertian-pengertian.

–          Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari dapat dikuasai.

–          Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan/hasil.

–          Belajar dianggap berhasil bila pembelajar telah sanggup mentransferkan dan menerapkannya ke dalam bidang praktek sehari-hari (Oemar Hamalik, 1980).

Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa seseorang dalam proses belajarnya merupakan suatu organisma yang aktif, bukan merupakan bejana kosong yang hanya dapat menerima begitu saja pelajaran pengetahuan. Tetapi di dalam proses belajar harus aktif, misalnya mengajukan pertanyaan, mengaitkan pengetahuan sekarang dengan pengetahuan masa lampau, mengolah, menanggapi, menganalisis, membuat intisari pelajaran, membuat outline, dan sebagainya. Dengan berpartisipasi aktif, mahasiswa akan menghayati pelajaran sehingga hasil belajar merupakan bagian dirinya, baik perasaan, pemikiran dan tingkah lakunya.

Agar mahasiswa mampu belajar secara terarah, mahasiswa harus mempunyai tujuan, seperti tujuan perkuliahan, tujuan belajar setiap mata kuliah, dan tujuan setiap kali akan belajar. Tujuan ini akan mengarahkan setiap kegiatan kepada tujuan yang akan dicapai dan mahasiswa akan lebih mudah mengevaluasi hasil belajar yang telah dicapainya.

Motif merupakan pendorong sehingga mahasiswa lebih giat belajar. Mahasiswa yang mengalami hambatan atau penurunan prestasi belajarnya dapat terjadi disebabkan oleh kurangnya motivasi mahasiswa tersebut dalam belajar. Seiring ini, I.L. Pasaribu dan B. Simanjuntak (1980) menyatakan : “…apabila proses belajar macet atau menurun, sebaiknya dicari dari segi motivasi lebih dahulu”. Belajar akan lebih berhasil bila motivasi berasal dari dalam diri sendiri daripada mahasiswa yang motivasi belajarnya hanya didorong oleh adanya ganjaran atau ketakutan akan hukuman. Jadi, jelaslah bahwa motivasi merupakan hal yang mempengaruhi proses belajar.

 

  1. 3.      Metode

Penelitian ini merupakan penelitian korelatif, yakni meneliti kesesuaian tes inteligensi umum dan tes hasil belajar mahasiswa AMIK Jenderal Sudirman. Penelitian terdiri atas variabel bebas inteligensi umum dan variabel tergantung hasil belajar. Populasi penelitian adalah mahasiswa AMIK Jenderal Sudirman angkatan 1997/1998. Dari populasi diambil sampel populasi sebanyak 56 mahasiswa.

Data inteligensi umum dikumpulkan dengan menggunakan instrumen Standard progressive Matrices dan data hasil belajar setiap semester melalui Indeks Prestasi (IP) komulatif. Untuk mengetahui kesesuaian inteligensi umum dengan tes hasil belajar dilakukan uji statistik korelasi Product moment Pearson yang dikemukakan oleh Sudjana (1996).

 

  1. 4.      Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut:

Tabel 1 Hasil Perhitungan NIlai r dan z

Variabel

Ex

Ey

Ex2

Ey2

Exy

r

z

X – y

3553,37

3797

244127,55

261126,51

243841,05

0,35

2,57

 

Dengan r = 0,35, berarti terdapat hubungan yang tergolong kuat antara inteligensi umum dengan hasil belajar. Dengan demikian hubungan positif antara inteligensi dengan tes hasil belajar mahasiswa-mahasiswa AMIK Jenderal Sudirman dapat diterangkan sebesar  40%. Semakin tinggi inteligensi maka semakin tinggi pula hasil belajar .

Bila dilihat pencapaian hasil belajar, adalah sebagai berikut:

 

 

Tabel 2. Keadaan hasil Belajar Mahasiswa AMIK jenderal Sudirman

Indeks Prestasi Komulatif

F

%

Nilai Akhir Angka Huruf

Keterangan

3,60-4,00

2

3,58

4  A

Sangat baik

2,60-3,59

27

48,21

3  B

Baik

1,75-2,59

27

48,2

2  C

Cukup

0,60-1,74

0

0

1  D

Kurang

0,00-0,59

0

0

0   E

Tidak lulus

 

 

Dari tabel 2 di atas dapat dilihat mayoritas hasil belajar mahasiswa AMIK berada pada tingkat pencapaian nilai B (Baik) dan C (Cukup) masing-masing sebanyak 48,21%. 3,58% mahasiswa AMIK mencapai hasil belajar tertinggi dengan nilai A (sangat baik) dan tidak ada mahasiswa AMIK yang mencapai prestasi belajar dengan nilai D (Kurang) dan E (tidak lulus).

Temuan penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara inteligensi umum dan tes hasil belajar mahasiswa AMIK, memperlihatkan bahwa temuan penelitian sesuai dengan konsep teori, yaitu inteligensi umum merupakan persyaratan  bagi pencapaian hasil belajar mahasiswa AMIK. Dengan nilai korelasi ini berarti bahwa hasil belajar mahamsiswa AMIK Jenderal Sudirman Medan berkaitan erat dengan inteligensinya. Keeratannya sebesar 0,35 ini menunjukkan inteligensi bukan satu-satunya variabel yang dapat meningkatkan hasil belajar, terdapat faktor-faktor lain yang turut memberikan andil terhadap prestasi belajar mahasiswa AMIK Jenderal Sudirman Medan.

 

  1. 5.      Kesimpulan

a. Keadaan kecerdsan umum mahasiswa-mahasiswa AMIK Jenderal Sudirman sebagai berikut:

–          17,86 % tergolong kecerdasan umum rendah

–          55,36% tergolong kecerdasan umum sedang

–          14,29% tergolong kecerdasan umum tinggi

–          12,5 % tergolong kecerdasan umum sangat tinggi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum tingkat kecerdasan umum mahasiswa AMIK Jenderal Sudirman tergolong sedang menuju tinggi.

b. Keadaan hasil belajar mahasiswa AMIK Jenderal Sudirman sebagai berikut:

– 48,21% tergolong prestasi cukup

– 48,21% tergolong prestasi tinggi

– 3,58 % tergolong prestasi sangat tinggi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum keadaan prestasi belajar mahasiswa-mahasiswa AMIK Jenderal Sudirman tergolong pada taraf cukup.

  1. Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan umum dan hasil belajar, meskipun hubungan yang terjadi antara kedua variable di atas signifikan tetapi angka korelasi 0,35 menunjukkan tingkat korelasi yang tidak begitu tinggi.

Disarankan untuk meneliti mengenai aspek-aspek apa saja lainnya yang berkaitan dengan hasil belajar di luar variabel inteligensi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agoes Soejanto, 1981. Bimbingan Ke arah Belajar yang Sukses. Jakarta: Aksara.

Anastasi, A. 1988. Psychological Testing. New York: Macmillan Publishing Company.

Cronbach, L.J. 1984. Essentials of Psychological Testing. Third Edition. New York: Haper and Row Publishers.

Ginsburg, H. & S. Opper. 1979. Piaget’s Theory of intellectual development. New York: Prentice – Hall, Inc., Englewood Cliffs.

Lerner, R.M. 1976. Concepts And Theories of Human Development. Addison Wesley Publishing Company.

Manurung, 1978. Psikologi Umum. Diktat. IKIP Medan.

Masrun 1976. Validits Tes SPM sebagai Alat Pengukur Kecerdasan Pelajar SMA., Jurnal Psikologi No. 1 Tahun IV, Agustus 1976, 37-52.

Oemar Hamalik, 1980. Metoda Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito.

Pasaribu, L & Simanjuntak, B. 1980. Proses Belajar Mengajar. Bandung : Tarsito.

Raven, J.C. 1960. Guide to the Standard Progressive Matrices sets A, B, C, D, and E. London : H.K. Lewis and Co.Ltd.

Sastrapadja, M. 1978. Kamus Istilah Pendidikan dan Umum. Surabaya: Usaha Nasional.

Siegel, S. 1986. Statistik Non Parametrik. Diterjemahkan oleh Zanzawi Suyuti. Jakarta: Gramedia.

Sugiyanto, dkk. Ed. 1984. Informasi Tes. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Sumadi Suryabrata, 1983. Materi Dasar Pendidikan Program Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi. Jakarta: Depdikbud Dikti.

 

Link Jurnal Digital UISU :
nav-leftnav-leftnav-lefttijarahjulisaJurnal sosial ekonomiNur edukasiTausiah